2 Comments

Pembelajaran Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) Berbasis Cerita Rakyat Berbantu Permainan Kartu Bilangan dengan Pendekatan PMRI di Kelas V Sekolah Dasar

A. Pendahuluan

Pembelajaran Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) pada kelas V di SD Yayasan IBA Palembang oleh Farida dengan dibantu oleh Sakinah dan Bu Dewi selaku guru kelas, serta diikuti oleh 30 siswa yang dibagi menjadi 5 kelompok dilaksanakan pada hari Rabu 14 September 2011. Sebelumnya siswa telah mendapatkan materi KPK pada kelas IV, sehingga desain pembelajaran diawali dengan review kembali tentang materi tersebut. Dalam review tersebut digunakan “pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan”. Cerita rakyat yang digunakan berjudul Legenda Asal Mula Lomba Bidar yang merupakan cerita asal dari Palembang, dimana dalam cerita tersebut terkandung konteks masalah yang berkaitan dengan KPK. Kemudian mengarahkan siswa untuk lebih memahami tentang kelipatan, kelipatan persekutuan dan kelipatan persekutuan terkecil. Selanjutnya, siswa bekerja dalam kelompok untuk menemukan faktor prima suatu bilangan menggunakan kartu bilangan. Setelah memahami faktor, faktor prima dan faktorisasi prima secara mendalam, siswa dapat menemukan KPK dari 2 bilangan yang diberikan. Siswa menyelesaikan soal dalam lembar aktivitas siswa secara berkelompok dan mempresentasikannya di depan kelas, bagi kelompok yang berhasil presentasi diberi penghargaan berupa bintang yang selanjutnya dipasang pada papan keaktifan. Pembelajaran ditutup dengan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK secara individu. Deskripsi tentang proses pembelajaran berbasis cerita berbantu permainan kartu bilangan akan diuraikan pada bagian selanjutnya.

B. Tujuan

Tujuan dari kegiatan observasi ini adalah

  1. Mengetahui apakah pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan dapat membantu siswa dalam memahami konsep KPK.
  2. Mengetahui apakah proses pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan dapat bermakna bagi siswa.

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam kegiatan observasi ini adalah

  1. Apakah pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan dapat membantu siswa dalam memahami konsep KPK?
  2. Apakah proses pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan dapat bermakna bagi siswa?

D. Deskripsi Data

Pembelajaran dimulai dengan pembagian siswa menjadi lima kelompok. Pemberian nama kelompok menggunakan nama-nama hewan yaitu harimau, singa, beruang, elang, dan zebra. Setiap kelompok menerima kartu bilangan yang selanjutnya akan digunakan dalam proses “pembelajaran KPK berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan”.

Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam proses “pembelajaran KPK berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan”:

1. Memberikan masalah kontekstual yang realistik sebagai upaya mengenalkan konsep kelipatan.

Gambar 1. Observer memberikan masalah konteks berupa cerita rakyat

Aktivitas yang dilakukan adalah menggunakan cerita rakyat dari daerah Palembang yang berjudul Legenda Asal Mula Lomba Bidar. Observer membacakan cerita di depan kelas dan semua siswa mendengarkan, setelah cerita selesai siswa diajak aktif dalam tanya jawab mengenai isi cerita. Dalam cerita tersebut terkandung konteks masalah tentang kelipatan yang dapat digunakan untuk belajar KPK, misalnya: “Putri Dayang Merindu mandi di sungai dua kali sehari” konteks ini dapat digunakan untuk mengajarkan konsep kelipatan. Selanjutnya, “Putri Dayang Merindu membuat janji dengan Kemala Negara untuk bertemu di sungai setiap 3 hari sekali sedangkan Kemala Negara akan pergi ke sungai setiap 2 hari sekali” konteks ini dapat digunakan untuk mengajarkan konsep kelipatan persekutuan dan kelipatan persekutuan terkecil.

2. Tahap pemecahan masalah dan menemukan konsep kelipatan. Pada tahap ini, siswa dengan panduan guru diarahkan untuk menemukan konsep KPK yang terdapat pada cerita melalui tanya jawab tentang berapa kali Putri Dayang Merindu mandi dalam 2 hari, 3 hari, dan seterusnya, dan setelah berapa hari Putri Dayang Merindu dan Kemala Negara dapat bertemu di sungai menggunakan kartu bilangan.

3. Tahap diskusi. Pada tahap ini, para siswa diarahkan untuk mendiskusikan masalah dalam cerita yang mengandung konsep KPK menggunakan konsep kelipatan dan faktor prima dengan berbantu kartu bilangan. Dan menanyakan kepada siswa bagaimana mereka mendapatkan angka-angka yang mereka susun dalam kartu bilangan tersebut.

Beberapa penemuan dalam observasi tentang upaya siswa dalam menyusun angka-angka berbantu permainan kartu bilangan selama pembelajaran adalah sebagai berikut.

  • Siswa menemukan kelipatan bilangan dengan menjumlahkan bilangan itu dengan bilangan yang sama, selain itu sebagian siswa lain menemukan dengan cara mengalikan urut dari 1 sampai dengan 10 terhadap bilangan yang hendak dicari kelipatannya.

Gambar 2. Siswa berusaha menemukan kelipatan suatu bilangan

  •  Siswa membandingkan bilangan-bilangan kelipatan yang telah disusun dalam kartu kuning dan biru, serta mengambil bilangan-bilangan yang sama dari masing-masing kartu kuning dan biru yang merupakan persekutuan dari dua bilangan tersebut, lalu memilih yang nilainya paling kecil.

Gambar 3. Siswa mencari kelipatan persekutuan dari dua bilangan

  • Siswa menemukan faktor suatu bilangan dengan membuat semua bentuk perkalian yang mungkin dari bilangan tersebut.

Gambar 4. Siswa menyusun bentuk perkalian untuk menemukan faktor bilangan

  • Siswa yang sebelumnya sudah pernah belajar tentang bilangan prima dapat memilih faktor-faktor yang telah disusun yang termasuk bilangan prima dan menyusun bentuk perkalian dari faktor prima tersebut.

Gambar 5. Siswa menyusun faktorisasi prima dengan kartu bilangan

4. Tahap refleksi. Pada tahap ini siswa diajak merefleksikan apa yang telah dikerjakan dan apa yang telah dihasilkan dengan menyampaikan dan menuliskan pendapatnya di depan kelas. Para siswa sangat antusias dalam menyampaikan pendapatnya. Bagi siswa yang sudah berani maju ke depan kelas dan berhasil menyampaikan pendapatnya dengan benar mendapat penghargaan berupa bintang yang selanjutnya dipasang pada papan keaktifan untuk menunjukkan kelompok mana yang paling aktif selama proses pembelajaran, yaitu ditunjukkan dengan perolehan bintang terbanyak. Sedangkan pendapat yang belum tepat dari salah satu siswa didisusikan secara klasikal sehingga dia dapat menyadari sendiri kesalahannya.

Gambar 6 (a) Siswa antusias menyampaikan pendapatnya di depan kelas

Gambar 6 (b) siswa presentasi di depan kelas

Gambar 6 (c) siswa menempel bintang di papan keaktifan

5. Tahap selanjutnya adalah membantu siswa mengaitkan pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan dengan konsep kelipatan, kelipatan persekutuan, faktor prima, dan kelipatan persekutuan terkecil dari dua bilangan.

6. Tahap akhir, siswa diarahkan untuk mengembangkan, memperluas, dan meningkatkan hasil pemahaman mereka dengan mengerjakan soal yang ada dalam Lembar Aktivitas Siswa secara kelompok, kemudian perwakilan beberapa kelompok mempresentasikannya ke depan kelas dan kelompok yang lain menanggapi. Selanjutnya, siswa mengerjakan soal pada Lembar Tugas Siswa secara individu dengan waktu yang cukup singkat.

Gambar 7 (a) Siswa mengerjakan lembar aktivitas siswa secara kelompok

Gambar 7 (b) siswa mengerjakan lembar tugas siswa secara individu

E. Analisis

Permasalahan utama yang ditemukan dalam observasi ini adalah bagaimana menanamkan konsep kelipatan kepada siswa. Dengan mengetahui konsep kelipatan, siswa akan lebih mudah di arahkan kepada konsep persekutuan dan diakhiri dengan mencari persekutuan terkecil dari hasil persekutuan yang telah mereka data sebelumnya. Selanjutnya menanamkan konsep tentang faktor prima untuk menemukan KPK dari dua bilangan dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK.

Observer menggunakan pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan untuk mempermudah siswa memahami konsep kelipatan yang pernah mereka pelajari pada kelas IV, dan konsep faktor prima yang sebelumnya telah mereka dapatkan dari Bu Dewi, selaku guru kelas V B, yang mungkin masih menggunakan metode konvensional. Selain itu, dengan pembelajaran berbasis cerita berbantu permainan kartu bilangan, siswa diberi kebebasan untuk menggunakan pengetahuan yang mereka miliki kemudian dapat mengingatkannya kembali dengan proses belajar tersebut. Pada dasarnya, siswa sekolah dasar akan lebih mudah memahami suatu pelajaran, ketika mereka berada pada situasi yang menyenangkan dan tidak berada di bawah tekanan sehingga mereka dapat menikmati pelajaran tersebut, salah satunya adalah bermain sambil belajar seperti dalam pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan.

Dalam PMRI dikenal istilah iceberg, yang digunakan untuk mendeskripsikan proses pemahaman siswa dari sesuatu yang real (dapat dibayangkan oleh siswa) menuju puncak dimana siswa mampu memahami simbol matematika yang bersifat abstrak, dalam hal ini adalah KPK. Berikut ini merupakan iceberg dari aktifitas yang telah dilakukan dalam pembelajaran KPK pada kelas V B di SD Yayasan IBA Palembang.

Gambar 8. Iceberg dalam pembelajaran KPK

F. Simpulan

Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan, diperoleh simpulan sebagai berikut.

  1. Pembelajaran berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan dapat membantu siswa dalam memahami konsep KPK karena siswa lebih mudah memahami materi pelajaran melalui cerita dan bermain sambil belajar.
  2. Proses pembelajaran KPK berbasis cerita rakyat berbantu permainan kartu bilangan dapat bermakna bagi siswa karena siswa dapat memahami konsep dan mengetahui penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

2 comments on “Pembelajaran Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) Berbasis Cerita Rakyat Berbantu Permainan Kartu Bilangan dengan Pendekatan PMRI di Kelas V Sekolah Dasar

  1. it’s briliant ! akan lebih bagus bila dalam refleksi ditambahkan langkah konkret guru untuk langkah selanjutnya. beri lesensi pada guru lain yang ingin menggunakan model pembelajaranmu untuk peningkatan hasil belajar ! barokallaah.

  2. Syukron Bu Nur atas kunjungan n masukan serta saran yang membangun… semoga bisa bermanfaat…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: