Leave a comment

The Road Not Taken; Aweinspiring Poetry of Robert Frost (1)

The Road Not Taken

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

Mencoba mengupas makna dalam puisi tersebut:

Karya Robert Frost tidak akan jauh dari konflik batin kehidupan seorang manusia, yang terjadi dalam keseharian kita. Dengan cantik Robert Frost berusaha untuk menyampaikan nilai-nilai moral yang dilambangkan dengan suasana alam yang tenang. Ada pesan sangat unik dalam puisi ini yang dapat kita jadikan pelajaran dalam hidup: JANGAN TERBURU-BURU DALAM MEMUTUSKAN SESUATU, DAN YAKINLAH DENGAN PILIHAN ANDA.

Two roads diverged’ melambangkan kesempatan, saat kita berada di antara dua pilihan, kita sama-sama tidak mengetahui apa yang ada diujung pilihan kita nanti, semuanya masih serba belum jelas dan kita harus memutuskan untuk mengambil yang terbaik, maka Robert Frost mengajarkan kita untuk memikirkannya dengan dalam, tanpa harus terburu waktu, tanpa emosi, tanpa ambisi. Dua bait teratas memperlihatkan bagaimana si AKU memikirkan dalam-dalam jalan mana yang akan dia tempuh, menimbang-nimbang dari sore hari, mengamati satu jalan hingga hilang dibalik semak-semak, lalu jalan lainnya yang terlihat lebih ‘lively’ dan konon lebih banyak dilalui orang. Tapi dia tidak langsung memutuskan begitu saja, si AKU menunggu hingga pagi sampai di baris pertama bait ketiga ‘And both that morning equally lay’ yang memperlihatkan kesabarannya dalam proses pengambilan keputusan.

The Road Not Taken mengajarkan kita untuk berani mengambil resiko atas pilihan apapun yang kita ambil setelah dengan matang mempertimbangkannya, dan juga tidak menyesalinya. Selain itu, ada lagi yang paling penting, yaitu ‘ikutilah apa yang dikatakan oleh hati Anda, karena jika hati Anda bersih, itulah kebenaran’. Dilihat dari mulai baris ke2 bait terakhir ‘Two roads diverged in a wood, and I– I took the one less traveled by‘, si AKU akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan yang lebih sedikit orang mengambilnya. Robert Frost mengajarkan kita untuk tidak mengikuti kebanyakan orang dan memutuskan sesuai dengan keyakinan dan kepentingan kita, karena belum tentu pilihan yang banyak diambil orang ini akan baik juga untuk kita ke depannya. Hidup hanya sekali, so, jangan pernah takut menghadapi resiko untuk menjadi atau memilih bahkan memutuskan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang.

Puisi ini sangat bagus, bahkan luar biasa dan berkarakter, It is my great inspiration. Kita dapat belajar bahwa, keputusan itu, apapun tujuannya harus didasari dengan keinginan yang kuat, kesadaran, dan pengertian bahwa nantinya keputusan itu, dan masa depannya adalah yang akan kita jalani dan kita tentunya harus siap dengan segala konsekuensi yang menyertainya. Karena waktu tidak bisa terulang kembali. Kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. sebelum keputusan itu ditetapkan, mempertimbangkannya dengan rasional dan menerima apapun resikonya dengan ikhlas dan lapang dada.

Tidak dapat dihindari bahwa biasanya tentu saja akan selalu ada kegagalan dalam proses pencapaian cita-cita kita. Tapi di dalam lingkaran jatuh dan bangun tersebut, hidup akan terus dijalankan. Kita terus berproses dan bertumbuh “menjadi manusia”. Becoming a “true person”. Mereka selalu berprinsip: “Untuk menyelesaikan hal yang mungkin, aku akan kerjakan sendiri. Untuk hal yang sulit, aku akan minta bantuan orang lain. Dan untuk menyelesaikan hal yang tidak mungkin, aku akan minta campur tangan Allah”. Dan sungguh tidak ada tempat untuk terus menerus menyalahkan lagi. Sebab, mengutuk keadaan hanyalah cermin dari sebuah sikap yang tak mau menerima tanggungjawab penuh akan nasib diri sendiri. Seorang optimis memandang pada bunga mawar saja, bukan pada durinya. Sebaliknya seorang pesimis merenungi duri, dan acuh tak acuh pada bunganya..

We MUST know who truely we are, We MUST know what really we want. That’s what I called consciousness of a man..

Robert Frost ” The Road not taken” (1874-1963)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: